Aku dan Secangkir Kopi Itu

AKU DAN SECANGKIR KOPI ITU

 

Aku duduk disini. Terdiam. Cukup lama aku melihat secangkir kopi yang ada di depan ku.

Apa aku harus mengambil dan mulai untuk bisa sedikit saja menikmatinya dengan seluruh sel otak ku yang berteriak “aku harus meminumnya!” atau aku akan membuang jauh-jauh keinginan yang aku punya untuk meminumnya?

Ya, dia dan aku sangat menyukai minuman yang kami bilang memabukkan ini. Yang jelas ini bukan alkohol dan tentunya kami bukan hamba Alkohol. Kami hanya dua orang anak-anak Tuhan yang akan selalu menjadi hamba-Nya dengan cara kami sendiri. Menikmati indahnya dunia dengan kafein yang sudah menjadi darah untuk menghidupi raga kami dan mengambil nafas para dewa untuk terus menghidup jiwa kami.

Sebelum bertemu dengannyapun, aku mencintai kafein. Walau yang selalu aku minum bukan rasa asli dari biji asalnya tetapi aku sangat menikmati setiap tetes yang masuk melalui kerongkonganku. Rasa yang selalu membuat aku kekenyangan. Mungkin rasa yang sama ketika seseorang merasakan sebuah sensasi kenikmatan pada saat mereka meneguk segelas air putih dingin ketika bedug maghrib berkumandang di bulan Ramadhan.

Berbeda dengannya. Dia sangat mencintai kafein dengan originalitasnya. Dia, yang sangat aku cintai, meminum secangkir kopi hitam pahit di gelas kecilnya dan selalu mengatakan bahwa “Hidup adalah dimana kita melihat sebuah kaca dan bertanya apakah hidup itu adalah sebuah titik hitam yang penuh dengan kepahitan dan kita berani untuk menghadapinya dengan harapan dibalik hitamnya dunia, kita akan mendapatkan sesuatu yang nyata. Layaknya kopi hitam pahit yang selalu aku minum. Atau kita akan melihat bahwa hidup adalah sebuah perjalanan manis yang sangat menggelitik disetiap sisi jalan yang kita lalui tetapi justru pada akhirnya kita hanyalah seonggok daging yang selalu menginginkan manisnya dunia tanpa mengetahui dunia apa yang ada dibalik itu. Layaknya coffe latte yang selalu kamu minum.”

Pada awalnya, aku merasa bahwa pilihan kedua sangat baik untuk diriku. Terutama setiap saat bersamanya yang tentu membuat aku menjadi seorang yang jauh berbeda dari diriku sebelumnya. Tetapi, sejak ia tertidur jauh dibawah sana, aku mulai merasa apa aku bisa mulai melihat kepada sebuah kaca dan bertanya apakah aku siap dengan titik hitam didepan ku? Aku tidak tahu apa yang harus lakukan. Aku tidak punya dia yang selalu mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Aku tidak tau…

Atau aku dan secangkir kopi itu hanya akan saling duduk terdiam disini?

Sintok,
18 Agustus 2009

Tweet about this on TwitterPin on Pinterest0Share on Google+0Share on Facebook0

Please care to leave nice comment :)