Belajar Bagaimana Caranya Belajar

Belajar bagaimana caranya belajar a.k.a Learning How to Learn

Menarik banget ya judul NHW-nya kali ini. Tapi eits bentar dulu.. Semakin saya mengulang-ngulang judulnya, sayapun pada akhirnya semakin bingung. Kali ini bingungnya bukan karena tidak ada ide tetapi lebih kepada kebanyakan ide dan gimana caranya agar bisa menyatukannya sehingga bisa memudahkan saya dan orang yang membaca post ini menjadi faham.

Di minggu ini, kami dituntut untuk merefleksikan diri sendiri. Menyelami bagaimana strategi dan gaya belajar masing-masing. Tujuannya? Agar nanti kelak ketika kita ingin merancang strategi pembelajaran si kecil maka kita sudah terlatih sejak sekarang.

Saya percaya, setiap orang memiliki strategi dan gaya belajarnya masing-masing. Everyone is unique in their own special ways. Cara saya belajar tentu akan berbeda dengan cara Encik Suami belajar. Cara encik suami belajar juga akan berbeda dengan cara Si Kicik belajar.

Jadi apa dong yang harus dilakukan? Yuk, kita breakdown satu persatu.

Kenali diri sendiri

Jika kita memahami karakter diri sendiri (kemudian memahami karakter anak), maka kita akan tahu bagaimana cara yang terbaik untuk kita bisa memahami sesuatu (pelajaran dalam konteks anak). Encik suami lebih gemar belajar ketika ia mendengar langsung bahan kajian yang ingin dipelajari. Si kicik justru lebih cepat menangkap jika kita menampilkan objek tersebut, baik menggunakan video ataupun gambar.

Lalu saya? Saya lebih gemar membaca dan memahami tulisan-tulisan. Membaca secara komprehensif memang tidak mudah karena diperlukan tingkat konsentrasi yang tinggi. Oleh karenanya, ketika saya ingin membaca buku atau artikel jurnal secara komprehensif, saya akan menggunakan waktu-waktu tertentu ketika si Kicik sedang sekolah atau tidur. Baik buku-buku yang sudah saya sebutkan di NHW sebelumnya, maupun buku-buku penunjang lainnya.

Cara ini mungkin cocok untuk saya tetapi bukan berarti cocok untuk orang lain bukan? Nah disinilah poinnya. Bahwa menentukan gaya dan strategi belajar itu didahulukan dengan memahami karakter orang tersebut terlebih dahulu. Lalu kemudian merancang sesuai dengan karakter masing-masing.

Kenali betul tujuan belajar

Hal ini juga sangat penting. Setiap kita melakukan sesuatu tentu ada tujuan yang ingin kita capai. Sayapun kembali pada NHW sebelumnya dimana tujuan saya belajar Islamic Parenting ini adalah agar saya bisa menjadi GURU KEHIDUPAN bagi si Kicik.

Mengambil salah satu quote dari buku favorit saya, 5cm oleh Donny Dhirgantoro:

Biarkan keyakinan kamu, 5 centimeter mengambang di depan kening kamu. Dan… sehabis itu yang kamu perlu cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas, lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya, serta mulut yang akan selalu berdoa..

Biarkanlah tujuan belajar ini saya gantungkan 5cm di depan kening saya.

Gaya dan strategi belajar

Saya orang yang pelupa. Termasuk hal-hal yang penting.

Saya sadari ini sejak dulu dan kemudian membuat trik tersendiri agar jangan sampai kekurangan yang satu ini bisa menghambat proses belajar saya. Ada beberapa hal yang saya lakukan:

  • Ingat – catat. Begitu ingat akan sesuatu maka serta merta akan langsung saya catat. Applikasi notes di HP menjadi salah satu tool yang ampuh.
  • Take notes. Catatan dalam bentuk apapun. Salah satu catatan penting yang banyak saya simpan adalah postingan-postingan yang ada di blog ini. Beberapa postingan mengenai Parenting maupun Islamic Parenting sengaja saya publish di blog ini sehingga memudahkan saya untuk mengaksesnya kapan saja dan dimana saja.
  • Diulang-ulang. Semakin banyak mengulang maka akan semakin tertanam di bawah alam sadar saya.
  • Diskusikan. Setiap kali saya menemukan hal yang menarik mengenai ilmu yang ingin saya selami ini, ruang diskusi selalu terbuka di keluarga kami. Perbedaan yang diselingi debat kecil dengan encik Suami biasa terjadi agar sikap kritis kami selalu bisa diasah dan ini yang kemudian ingin kami tanamkan pula ke si Kicik.
  • Aplikasikan. Terkait dengan Islamic Parenting ini, penting rasanya untuk mengaplikasikannya secara bersinergi dengan encik Suami. Untuk apa kita hanya membaca dan memahami ilmu ini saja tanpa proses pembelajaran nyata dengan menerapkannya langsung kepada si Kicik.

Semangat belajaaar!!

#NHW

#DAY #5

#BELAJARBAGAIMANACARANYABELAJAR

#MATRIKULASI BATCH #5

Love,

Bubunnya Aqeela

dianmariesta

Author: dianmariesta

You can call me Dian, a housewife living in the middle of hustle bustle of Kuala Lumpur but still cannot forget my own “kampong”, Indonesia. Living for more than 10 years in Malaysia still make me a pempek-lover, bakso addict, gado-gado enthusiasts, and bakmi devotee. Photography and writing are one of the things that keep me sane throughout my day as a devoted housewife.

Related Post

1 Comment

  1. Doli Abu Daanya says: Reply

    Pateeeen…

Please care to leave nice comment :)