Dia, Gadis, dan Sang Cahaya

DIA.
DIA yang selalu bermimpi bersama Sang Cahaya.
DIA yang selalu berangan-angan untuk menyentuh Sang Cahaya.
DIA yang selalu berusaha untuk menggapai Sang Cahaya.

Tetapi…
DIA tahu, banyaknya duri dan semak belukar yang mengitari
Sang Cahaya bukanlah mudah untuk dilalui.
Senja itu, DIA memulai perjalanan untuk menggapai Sang Cahaya.

Sang Cahaya hanya berdiam diri.
Tegak bersinar dengan kokoh dan agungnya.
Sang Cahaya tidak peduli akan apa yang ada disekelilingnya.
Yang Sang Cahaya tau adalah untuk menunggu datangnya malaikat yang
akan menjemput dan menghabiskan semua dayanya hanya untuk malaikat itu.

Tetapi…
DIA dengan angkuh berjalan menyusuri duri dan semak belukar.
Setiap darah yang menetes dikumpulkan sebagai tanda bahwa
betapa DIA merindukan Sang Cahaya.

Goresan, luka, bernanah, hingga akhirnya menjadi borok
membuat DIA semakin lemah.
Hingga pada satu titik DIA bersimpuh, berlutut,
memohon untuk segera meraih Sang Cahaya.

Hingga akhirnya GADIS datang.
Dengan mudahnya GADIS melewati semua duri dan semak belukar itu.
GADIS berjalan berliuk-liuk
dan mulai mendekati DIA yang berada tidak jauh dari Sang Cahaya.

GADIS berjalan seperti angin.
Tidak berjejak tidak terasa.
Tetapi wewangian yang ada membuat DIA menjadi tersadar.

Bahwa GADISlah yang akan mengambil Sang Cahaya.
Bahwa GADISlah yang harus mengambil Sang Cahaya.

Kemudian GADIS dan Sang Cahaya bertemu
Melebur menjadi satu
Layaknya sebuah supernova.

Tetapi…
DIA melonjak kegirangan.
Dengan sepercik cahaya dari supernova itulah
DIA kembali hidup
Menghapus semua luka.

catatan kecil di senja yang sunyi

Tweet about this on TwitterPin on Pinterest0Share on Google+0Share on Facebook0

Please care to leave nice comment :)