Gaya Belajar si Kicik: Visual, Auditori, Kinestetik

Tema kelas Bunda Sayang di Level ke-4 ini menyinggung tentang Gaya Belajar Anak. Learning styles menjadi salah satu tema yang sekarang ini sedang wara-wiri di mana-mana dengan gencarnya. Mulai banyak yang melek nih bahwa gaya belajar sangat erat kaitannya dengan prestasi di sekolah. Alhamdulillah sudah banyak sekolah yang sudah mulai tidak terpaku dengan teknik mengajar yang jadul, anak duduk manis di kelas sambil mendengarkan guru mengajar, tapi sudah mulai mengeksplorasi berbagai cara.

Thanks to all the researchers, academicians and even the public yang sudah dengan gegap gempitanya meneriakkan konsep ini dan membuka mata banyak keluarga. Termasuk kami.

“Oh.. pantesan anak saya gak bisa duduk diem di kelas. Dia tipe anak yang kinestetik.”

“Wah.. iya nih. Anak saya akan lebih paham dijelaskan menggunakan gambar daripada diterangkan secara lisan.”

dst…

Peran orang tua akan sangat crucial dalam menemukan gaya belajar anak. Mengharapkan pihak sekolah untuk langsung tahu apa gaya belajar anak kita? Jangan harap! Bukan tugas mereka untuk meneliti satu per satu preferensi anak-anak kita. It’s our job! Sedangkan guru akan membantu untuk mengarahkan potensi setiap anak muridnya.

Di kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional, kami diajak untuk mengenal dan mengamati gaya belajar anak. Walaupun menurut beberapa penelitian ternyata ada 7 gaya belajar, di sini kami diperkenalkan dengan 3 gaya belajar saja:

Visual – Auditori – Kinestetik

Ciri-ciri Gaya Belajar Anak
Ciri-ciri Gaya Belajar Anak

Konsep Tantangan

Si Kicik termasuk yang mana? Jujur masih bingung. Visual iya, auditori iya kadang kinestetik juga. Tapi yang perlu dicari tahu mungkin gaya belajarnya yang dominan itu apa ya?

Ada beberapa referensi yang kemudian menjadi acuan tambahan dalam melakukan tantangan ini. Selain menggunakan referensi materi dari kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional, saya juga mengambil beberapa ide dari Baby Centre untuk memahami gaya belajar visual, auditori dan kinestetiknya.

Akan ada beberapa kegiatan yang dilakukan si Kicik selama 10 hari ke depan dan tugas Bubun di sini adalah untuk mengamati dan mencari tahu apa gaya belajarnya. Kegiatan-kegiatan yang dijalankan ini saya ambil panduannya dari Baby Centre:

Kesemua ini akan saya coba lakukan ke si Kicik dan melihat kecondongan gaya belajarnya. 1 skill akan dilakukan selama 2 hari sehingga akan cukup untuk memenuhi kuota tantangan 10 hari.

Kenapa konsepnya begini? Karena untuk anak seumur si Kicik, gaya belajarnya masih berubah-ubah. Ada baiknya untuk mengenalkan kesemua gaya belajar dan kemudian tugas orang tua untuk mengamatinya.

There are many different patterns of learning, and the best thing that a parent can do is step back and observe what seems to be happening and what seems to be working with their child. Parents begin evaluating their child’s learning style at age 6 or 7. Learning styles really start to crystallize during the middle school years. –  Levine, a pediatrics professor at the University of North Carolina Medical School.

Aplikasikan

Baiklah kita mulai tantangan 10 hari ini. Walaupun tentu, akan sulit mengidentifikasi gaya belajarnya hanya dalam 10 hari. But, let’s try!

Jadi, ingin si kecil bisa belajar secara optimal? Cari tau gaya belajar si kecil dan bantu proses belajar mereka dengan strategi yang sesuai dengan learning styles tersebut ya.

Finding out your child’s learning style is just the tip of the iceberg. What matters more is what you do with this knowledge – Barbara Given, director of the Adolescent Learning Research Center at the Krasnow Institute for Advanced Study at George Mason University in Fairfax, Virginia

Love,
Bubunnya Aqeela

 

Sumber bacaan:
Materi Level 4 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional. 2018. Memahami Gaya Belajar Anak, Mendampingi dengan Benar.
Denise Mann. Understanding Your Child’s Learning Style. https://www.webmd.com/parenting/features/childs-learning-style#1
Dian Mariesta

Author: Dian Mariesta

You can call me Dian, a housewife living in the middle of hustle bustle of Kuala Lumpur but still cannot forget my own “kampong”, Indonesia. Living for more than 10 years in Malaysia still make me a pempek-lover, bakso addict, gado-gado enthusiasts, and bakmi devotee. Photography and writing are one of the things that keep me sane throughout my day as a devoted housewife.

Related Post

Please care to leave nice comment :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.