Im in love with Indonesian novel

Disaat uda (baca: kakak laki-laki) saya sibuk dengan lomba-lombaan menghapal isi buku pintar senior bersama temannya semasa SD, saya tidak pernah sedikitpun tertarik untuk membaca. Karena saya merasa membaca itu membosankan, saya lebih suka menonton kartun di televisi. Alhasil, sampai dengan SMP saya tidak pernah suka membaca buku, kecuali komik.

Tetapi dengan bantuan seorang teman di SMA yang tergila-gila dengan sebuah novel karya Dewi Lestari (Supernova), saya seperti dirasuki keinginan tahuan yang besar mengenai karya sastra ini. Akhirnya saya memberanikan diri untuk membeli novel pertama saya, SUPERNOVA. Hampir 2 tahun saya digilai dengan novel-novel yang sarat akan nilai sastra mulai dari novel karya Dewi Lestari, Djaenar Maesa Ayu, Ayu Utami, dan Fira Basuki.

Disaat teman-teman justru menyukai novel pop a.k.a populer yang lebih ringan, saya justru tenggelam dengan arusnya cerita-cerita absurd dari novelis-novelis tersebut.

Setelah lulus SMA, entah kenapa saya sudah merasa sedikit bosan dengan bacaan yang agak sedikit “berat”, hingga akhirnya uda mempengaruhi saya dengan memberikan sebuah novel inspiratif berjudul 5CM pada tahun 2005. Karena kejenuhan dengan komposisi kalimat-kalimat yang sarat makna dan cerita yang kaya konflik, saya seperti dipelet oleh Donny Dhirgantoro dengan cerita yang ringan, dialog yang simpel, dan makna yang dalam.

Disaat teman-teman menyukai novel komedi yang lebih ringan, saya justru tenggelam dengan arus cerita-cerita inspiratif mulai dari 5CM dan Laskar Pelangi.

Saya tidak begitu ingat, kapan tepatnya Laskar Pelangi mulai meledak. Setau saya, sebelum buku ini menjadi buah bibir nasional, saya sudah membacanya jauh-jauh hari sebelum masyarakat dan media mulai mempublikasikan si ikal.

Entah kenapa, sejak saya mulai berkuliah waktu saya untuk membaca banyak berkurang. Salah satu kendala yang saya temui adalah tidak dapat menemukannya bacaan yang saya ingini selama saya di Malaysia. Saya selalu menunggu saat-saat liburan dan pulang ke Indonesia untuk mendapatkan novel-novel terbaik karya anak bangsa.

Hingga saat ini, saya masih cukup tenggelam dalam karya-karya inspiratif dari para novelis kita. Salah satunya Tere Liye, penulis rekomendasi dari seorang teman. Walaupun saya baru membaca 2 novel (Burlian dan Bidadari-bidadari surga), tidak ada satu katapun yang saya lewati hanya karena saya merasa bosan.


Jadi untuk kalian yang mencari novel inspiratif tetapi lelah dengan tema edukasi yang sekarang sedang ‘booming’ apa salahnya mencoba Tere Liye dan tenggelam bersamanya menuju sungai kehidupan dan bermuara di laut imajinasinya.

Tema yang diangkat cukup menarik, keluarga. Tapi setiap sudut dan sisi yang dikupas akan membuat kalian terinspirasi. Makanya saya sebut, inspirational novel.

Selamat membaca, readers!

Related Post

Tweet about this on TwitterPin on Pinterest0Share on Google+0Share on Facebook0

2 Comment

  1. aslm wr wb

    baju kaus muslimah tbuat dr kaus dan katun ada dsini

    bajuqueen.blogspot.com

  2. hahaha..
    inget aja uda sering baca buku “begituan”..

    adek ica doang nih yang rada kurang minat bacanya tuh…

Please care to leave nice comment :)