Inner Child untuk pengasuhan si kecil yang lebih berkualitas

Inilah yang membuat saya jatuh cinta dengan perkuliahan di Institut Ibu Profesional. Kita diajak untuk bisa memahami, merenung dan mengeksekusi berbagai isu dan fenomena yang berkaitan dengan keluarga. Mengasah analytical thinking dalam membangun sistem keluarga terbaik versi kita sendiri. Dan minggu ini, saya dipertemukan dengan inner child. Sebuah tema yang sejujurnya menukil banyak elemen dalam pribadi saya, baik positif maupun negatif.

Mengutip dari materi “Mengenal Inner Child dan Tuntas Menuju Pengasuhan yang Baik” di Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional:

Mengacu pada John Bradshaw (1992), Inner Child merupakan pengalaman masa lalu yang tidak atau belum mendapatkan penyelesaian dengan baik. Keberadaan Inner child secara positif dan negatif berpengaruh kepada perilaku, emosi dan hubungan sosial orang lain secara tidak sadar (unconscious).

Inner Child perlu dicintai, di rawat, agar bisa mendapatkan pengalaman positif. Sebuah proses kepengasuhan yang bahagia dapat diawali dengan upaya menyelesaikan konflik-konflik Inner Child ini.

Menyelesaikan konflik inner child adalah salah satu kunci untuk proses pengasuhan yang bahagia. Jleb! Kalimat ini serasa menohok! Karena memang saya pribadi terkadang masih terjebak dengan berbagai konflik inner child yang kemudian terbukti mempengaruhi kualitas pengasuhan saya kepada si Kicik.

Yang menarik di materi minggu ini adalah, kami tidak hanya diberikan BOM ATOM mengenai inner child tetapi kami diajak untuk bisa melakukan proses self-healing dari konflik ini. Caranya?

TEMUKAN, TERIMA, RELEASE, MAAFKAN, BERUBAH.

Dan kemudian membawa kami kepada NHW (Nice Home Work) yang cukup sulit. Selama saya bergabung diperkuliahan Institut Ibu Profesional, NHW ini terasa sangat sulit dibandingkan sebelumnya karena kami diarahkan untuk bisa menukil inner child tersebut, menerima apa yang sudah terjadi, melepaskan hal tersebut, memaafkan semuanya dan kemudian berubah menjadi pribadi yang lebih baik.

Proses memaafkan dan berubah inilah yang kemudian menjadi NHW minggu ini. Membuat jurnal syukur sebagai wujud aksi memaafkan dan membuat afirmasi positif sebagai wujud aksi melakukan perubahan.

Jurnal Syukur – Gratitude Journal

Jujur, awalnya terkesan sooo cheesy ketika membayangkan menulis ini. Sering saya melihat list orang-orang yang memamerkan Gratitude Journal (GJ) mereka membuat saya semakin tidak tertarik untuk membuatnya. Tapi setelah merenung sangaaatt dalaaam mengenai GJ dan akhirnya menuliskannya, saya merasa lebih lega. Leboh bahagia.. Lebih berarti..

Saya diingatkan bahwa nikmat yang diberikan Allah Azza wa Jalla tidak main-main. GJ membuat saya mengingat kembali semua hal tersebut dan kemudian membuat saya merasa lebih positif dan tentunya bahagia!

Afirmasi Positif – Positive Affirmation

This one is extremely tricky!

Bingung banget ketika harus membuat Positive Affirmation (PA). Bermodalkan mbah Gugel akhirnya saya menemukan resep menulis PA yang mudah dan berkesan di link berikut. Berikut rangkumannya ala saya:

  • Tulis hal negatif yang ingin kita hilangkan.
  • Prioritaskan hal apa yang ingin kita ubah.
  • Tulis argumen konter untuk melawan hal negatif tersebut.
  • Buat afirmasi menggunakan argumen konter. Berbentuk kalimat positif yang meng-encourage kita untuk melakukan hal yang lebih baik lagi.

Salah satu contohnya adalah, saya termasuk orang yang masih sangaaaat kurang sabarnya. Termasuk dalam mendidik si Kicik. Poin PA yang saya tuliskan adalah: ” Aku adalah pribadi yang sabar dalam menghadapi setiap tingkah laku si Kicik”. Dengan menanamkan kalimat ini di alam bawah sadar kita maka perlahan-lahan akan terjadi perubahan. Perubahan untuk menjadi pribadi yang lebih baik, seperti yang dituliskan pada PA. Aamiin…

Semoga tulisan ini dapat terus mengingatkan saya betapa pentingnya Jurnal Syukur dan Afirmasi Positif untuk bisa menjadi orang tua yang lebih baik untuk si Kicik. Insya Allah…

Love,

Bubunnya Aqeela

Sumber:
Self Healing: Mengenali Inner Child dan Tuntas Menuju Pengasuhan yang Baik (Pra Bunda Sayang Institut Ibu Profesional)

 

Dian Mariesta

Author: Dian Mariesta

You can call me Dian, a housewife living in the middle of hustle bustle of Kuala Lumpur but still cannot forget my own “kampong”, Indonesia. Living for more than 10 years in Malaysia still make me a pempek-lover, bakso addict, gado-gado enthusiasts, and bakmi devotee. Photography and writing are one of the things that keep me sane throughout my day as a devoted housewife.

Related Post

Please care to leave nice comment :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.