Jamila dan Sang Presiden (2009)

 

Apa yang ada di kepala saya ketika saya melihat trailer film ini adalah, “What an interesting story”.

Diangkat dari drama berjudul “Pelacur dan Sang Presiden”, Ratna Sarumpaet cukup berhasil membuat saya tersenyum. Tetapi jujur bukan karena arahannya yang saya rasa cukup baik tetapi karena untuk keberaniannya memberikan suguhan yang berbeda dengan apa yang ada di masyarakat sekarang, suatu cerita mengenai perihnya perdagangan anak.

Salut untuk Atiqah yang memainkan peran ini dengan sangat baik dan berhasil menandingi akting seniornya, mba Christine Hakim. Walaupun saya rasa akting pemain lainnya hanya cukup menjadi bumbu penyedap saja.

Satu yang saya kecewakan dari film ini adalah editing yang (maaf) jelek. Tidak adanya transisi yang jelas antara masa sekarang dan masa lalu dan itu membuat penonton menjadi kebingungan. Padahal fungsi transisi tersebut akan lebih memperjelas alur cerita bukan malah membuat cerita menjadi tidak karuan. Peralihan itulah yang justru menjadikan lubang hitam untuk film ini.


Terlalu jauh mungkin kalau saya membandingkan dengan salah satu editing film terbaik versi saya, Slumdog Millionaire, tetapi kenapa tidak para editor tersebut juga ikut bermain dengan elemen-elemen yang digunakan di film itu. Bukan maksud untuk memancing para editor berplagiat ria, tapi paling tidak mereka bisa menghabiskan sedikit waktunya melihat perkembangan film-film mancanegara, mempelajari, dan mempraktekan. Bisa dibilang, editing yang baik tentu akan menjadi salah satu nilai lebih dari film ini karena dengan tipikal cerita beralur maju dan mundur seperti ini, editing menjadi jantungnya. Dan barulah ia bisa layak masuk nominasi Oscar.

Ada yang setuju??

Sutradara: Ratna Sarumpaet
Penulis: Ratna Sarumpaet
Pemain: Atiqah Hasiholan, Christine Hakim, Eva Celia, Dwi Sasono, Fauzi Baadila, Surya Saputra

Related Post

Tweet about this on TwitterPin on Pinterest0Share on Google+0Share on Facebook0

2 Comment

  1. kalo aku **** nih film bagus, ceritanya keren.. lain dari yang lain yang cuma bertema “cinta”.

  2. nonton film indonesia terakhir kali sekian puluh tahun lalu dan belum ada niat nonton lagi sejak itu. kuatir kecewa 🙂

    untuk jamila, sempat sih baca naskah sekaligus nonton pementasan dramanya, bahkan dua kali.

Please care to leave nice comment :)