Ketika Cinta Bertasbih (2009)

“Megafilm Ketika Cinta Bertasbih”

Kalimat itu yang menjadi salah satu alasan kenapa saya menonton film ini ditambah dengan kabar bahwa film ini menghabiskan cukup banyak dana selama proses pembuatannya. Pada awalnya saya tidak begitu excited untuk menontonnya. Tetapi dengan melihat behind the scene, banyaknya promosi-promosi yang ada, dan ditambah dengan bumbu2 dari infotainment, yaaa akhirnya saya memutuskan untuk menonton film ini bersama keluarga. Terlepas dari review film yang akan saya jabarkan nanti, ternyata promosi yang heboh dan bumbu2 dari infotainment itu sangat membantu mempromosikan sebuah film ya.

Untuk sinopsisnya sendiri, seperti biasa saya tidak akan menjabarkan secara gamblang. Saya hanya akan memberikan beberapa hal “positif” dan “negatif”nya aja dari kacamata saya. Bukan berarti saya mengatakan bahwa film ini baik atau buruk tetapi yang jelas bagaimanapun juga saya sangat menghargai hasil karya anak negeri sendiri (caelah!)…

Hal paling utama yang akan saya angkat disini adalah mengenai CGI yang digunakan. Dengan telah menghabiskan uang yang cukup banyak(katanya malah dana yang dikeluarkan = 7 buah film), kenapa justru CGI yang ditampilkan dalam sebuah scene itu SANGAT MENGGANGGU mata saya. Jujur saya katakan, lebih baik CGI tersebut tidak digunakan daripada akhirnya justru malah mengganggu penontonnya. Dalam scene dimana sedang diselenggarakannya makan malam menyabut DUBES Indonesia di negara lain (saya lupa dari negara mana), yang ditampilkan adalah setting malam plus dengan bintang2 yang sangat ENGGAK BANGET. Ternyata ketika saya melihat dalam behind the scenenya, shooting yang dilakukan untuk scene itu adalah sore hari. Pertanyaannya, kenapa gak dibuat tetap sore hari aja??? Kenapa harus memaksakan menggunakan animasi yang justru akhirnya akan mengganggu penonton???

Selain itu, saya merasa hampir setiap scene yang ada itu terkesan “kosong”. Terkadanag malah menurut saya ada beberapa scene yang terlalu panjang padahal menurut saya semua itu bisa lebih dipadatkan lagi sehingga penonton menjadi tidak bosan. Penting banget untuk membuat penonton tidak bosan! Tapi untuk content dialognya saya cukup menikmatinya. Tidak hanya serius membicarakan mengenai agama tetapi juga kelucuan yang ditampilkan juga cukup menarik.

Aktingnya…. Hmmm… Untuk pemain pemula seperti mereka itu, saya cukup menghargai usaha kesemua pemainnya. Walaupun ada satu dua orang yang saya rasa masih kurang maksimal tapi untuk akting pertama mereka saya masih bisa memakluminya. Gak mudah untuk dapat berakting dengan baik didepan kamera ditambah dengan menggunakan bahasa Arab.

Editing…. Sayaaanngg banget editingnya juga kurang bumbu. Terutama waktu scene2 flashback. Hampir semua scene flashbacknya itu tidak ditambahkan dengan “sesuatu” yang dapat membuat penonton lebih “aware” dengan apa yang akan ditampilkan itu.

Terlepas dari semua itu, saya sangat menghargai hasil karya para pemain, kru, sutradara, dan semua pihak yang terkait dalam pembuatan film ini. Semoga untuk kedepannya, film maker Indonesia dapat lebih aware untuk hal2 kecil yang seperti saya sebutkan diatas tadi. Semoga bermanfaat!

Cheerrsss….

Sutradara:Chaerul Umam
Penulis: Imam Tantowi
Pemain: Kholidi Asadil Alam, Oki Setiana Dewi, Alice Norin, Andi Arsyil Rahman, Meyda Safira, Deddy Mizwar, Didi Petet, Habiburrahman El Shirazy

Tweet about this on TwitterPin on Pinterest0Share on Google+0Share on Facebook0

5 Comment

  1. setuju banget sama kak dian

    ‘PACAK NIAN OII!’ hahaha

  2. Jadi ragu nak nontonnyo.
    Btw Salam kenal……

  3. @nadra:
    hahahaha.. pemikiran yang sama.

    @deka:
    salam kenal juga… 🙂

  4. ooo jelek ya dian filmnya..
    bagusan mana ama Transformer? hahahah

Please care to leave nice comment :)