Ketika kejujurannya ternodai

Kemarin, saya membaca sebuah postingan di kaskus. Cerita tentang kejujuran seorang anak yang malah berujungkan kesedihan untuknya. Karena jujur mengatakan bahwa sekolahnya meminta dia untuk melakukan kecurangan pada Ujian Nasional 2011 lalu, Muhammad Abrary Pulungan, dimusuhi oleh teman-teman sekolahnya. Bahkan para guru dan orang tua murid lainnya juga bersikap sama.

 

Seburuk itukah potret pendidikan kita sekarang?

Seburuk itukah nilai kejujuran di mata masyarakat Indonesia saat ini?
Entahlah. Semua orang mencari siapa yang salah dan siapa yang benar dalam kasus ini. Saya hanya miris melihat anak sejujur, sepintar dan sekritis Abrary harus merasakan trauma karena pengalaman ini. Sepertinya, memang kejujuran sudah tidak ada nilainya lagi di hati masyarakat kita. Bukan ingin berfikir dan bersikap pesimis dengan masyarakat kita, toh saya juga bagian dari “masyarakat kita” itu. Hanya tidak habis fikir saja, kejujuran Abrary justru menjadi momok mengerikan untuk dia. Apakah kedepannya jika kita (mungkin anak-anak kita) bersikap jujur maka akan diberikan balasan yang menyakitkan? Bukan di berikan reward atas kejujurannya?
Sangat tertarik untuk menyimak kisahnya di film dokumenter “Temani Aku Bunda”. Semoga kisah ini bisa memberikan inspirasi bagi para orang tua dan pendidik di Indonesia. Semoga…
Trailer Temani Aku Bunda

 

Cheers,

 

Related Post

Tweet about this on TwitterPin on Pinterest0Share on Google+0Share on Facebook0

Please care to leave nice comment :)