Ketika si Kecil Asyik Menonton, Lalu?

Saya dan Encik Suami termasuk orang tua yang sengaja untuk tidak melarang dan membatasi Si Kicik terlalu berlebihan. Kami percaya bahwa membatasi secara ekstrim justru bisa memberikan impak yang negatif untuk perkembangan si Kicik.

Salah satunya soal MENONTON.

Si Kicik terpapar dengan media elektronik cukup cepat. Rasanya ketika itu ia masih dibawah satu tahun. Lho kenapa anak sekecil itu kasih tontonan ya? Ada beberapa alasan yang pada akhirnya membuat kami sepertinya sedikit mengendurkan idealisme demi si Kicik yang kala itu susah sekali makan.

Nyesel gak nih dengan keputusan ini?

Jujur tidak. Alhamdulillah, si Kicik justru banyak sekali mendapatkan manfaat dari media yang satu ini.

Speech delay? Bisa dibilang tidak. Malah dia banyak sekali mendapat kosakata baru dari tontonannya dan membantunya sedikit demi sedikit dalam berkomunikasi. Mulai dari perbendaharaan abjad, huruf, warna, bentuk, hingga yang lainnya.

Ketergantungan? Tidak juga. Mungkin iya pada awalnya. Tapi justru yang ketergantungan itu malah bubunnya, bukan si Kicik. Saya akui sempat terlena dengan teknologi ini tapi pada akhirnya (Alhamdulillah!) saya bisa “lepas” dari ketergantungan itu.

Jadi, ketika seseorang mengatakan bahwa dengan menonton anak bisa speech delay dan ketergantungan berlebihan maka saya akan tetap dengan tegas mengatakan: IYA!

Lha, kok si bubun jadi labil ya? Sebentar bilang TIDAK, sebentar bilang IYA.

Begini, seperti yang sudah diceritakan diatas bahwa semuanya itu tidak perlu dibatasi secara ekstrim. Jika memang kita memutuskan untuk sama sekali tidak memberikan tontonan kepada anak, silahkan saja. Saya menghormati keputusan orang tua yang seperti ini. Bahkan saya salut!

Tapi ketika saya melihat orang tua yang semena-mena memberikan tontonan kepada anaknya, saya merasa “gerah” ingin ikutan berkomentar. Media diperuntukkan untuk membantu tumbuh kembang anak, bukan untuk justru membunuh tumbuh kembang anak.

Nah, ada beberapa langkah yang dijalani oleh keluarga kecil kami ini. Semoga bisa memberikan manfaat ya!

Selalu dampingi

Wah ini memang penting banget! Bukan berarti kita memberikan anak kesempatan untuk menonton tetapi kita justru membiarkannya begitu saja. Bisa gawat! Makanya, kita juga harus ikut sama-sama menonton apa yang mereka tonton sehingga bila ada hal-hal yang dirasa tidak pas, kita bisa mencegahnya.

Buat akun Youtube untuk anak

Hal ini kami lakukan agar memudahkan untuk memantau tontonannya. Plus Reccomended Video yang munculpun akan bisa di filter. Gak perlu takut tiba-tiba ada video “aneh” yang muncul di feed-nya.

Filter! Filter! Filter!

Konten yang ditonton anak juga harus di filter ya! Konten-konten yang berkaitan dengan kekerasan, seksual, nilai-nilai agama lain plus tradisi lainnya yang tidak sesuai dengan kami, akan langsung di blok. Dan kami tidak langsung serta merta mem-blok video atau akun tersebut. Kami ajak si Kicik untuk mengintip sedikit lalu kami jelaskan bahwa apa yang ada di video tersebut tidak baik dan hal ini kami lakukan berulang-ulang. Hasilnya? Si Kicik sudah tau mana video yang tidak boleh ia tonton dan mana yang boleh. Ketika ia berjumpa dengan video yang tidak boleh ditonton, secara otomatis dia akan langsung memanggil kami dan meminta persetujuan untuk mem-bloknya.

Meminta izin

Selalu tanamkan kepada anak untuk meminta izin. Ini berlaku untuk video-video baru yang belum pernah kami tonton. Ketika melihat ada video baru yang muncul di feed-nya, si Kicik akan selalu bertanya apakah ia boleh menonton video itu. Hal ini cukup penting menurut saya karena bisa mengurangi resiko “kecolongan” selama menonton.

Perlu digaris bawahi bahwa menonton yang saya maksud di sini lebih mengacu pada tontonan via tablet, laptop atau smart phone, bukan pada tontonan TV (terutamanya TV lokal Indonesia). Penggunaan TV dirumah kami cukup minim. TV hanya dihidupkan pada saat-saat tertentu saja dan hanya ditonton oleh saya dan Encik Suami. Tontonan untuk si Kicik fully dari gadget yang sudah saya sebutkan di atas ataupun film anak-anak yang sudah di unduh sebelumnya dan di putar di TV kami.

Saya tidak bermaksud menggurui. Saya tidak bermaksud menyindir orang tua yang melarang anaknya menonton. Saya juga tidak bermaksud mencemooh orang tua yang selalu memberikan gadget kepada anaknya. Semua orang tua memiliki alasaannya masing-masing dalam mendidik anaknya. Saya yakin tidak ada satupun orang tua yang ingin anaknya tumbuh menjadi seorang yang buruk, bukan?

Hanya sekedar ingin berbagi, bahwa jika penggunaan media ini digunakan secara bertanggung jawab, Insya Allah ada hal-hal positif yang bisa kita ambil didalamnya.

Love,

Bubunnya Aqeela

 

Tulisan ini adalah collaborative blogging saya bersama Bundien dengan tema: Tontonan Anak. Simak kisah sahabat saya “ Tontonan Favorit Nala” disini ya!

Related Post

Tweet about this on TwitterPin on Pinterest0Share on Google+0Share on Facebook0

2 Comment

  1. Mantap. Oke Oce

  2. Test

Please care to leave nice comment :)