Komunikasi Produktif Bersama si Kicik: Sebuah Aliran Rasa

Alhamdulillah… Tantangan 10 hari di Kelas Bunda Sayang Level 1 mengenai Komunikasi Produktif sudah saya lewati. Rasanya campur aduk banget! Mulai dari excited, seneng, sebel, lelah sampe gemes-pun tumpah ruah selama hari-hari yang dijalani ini. Tapi tentu, goal dari kelas pertama mengenai Komunikasi Produktif ini tidak hanya berhenti sampai disini aja dong. Kapal tetap harus berlayar, kapten!

Hal inilah yang kemudian menggelitik saya. Bisa gak ya untuk terus melakukan komunikasi secara produktif ini? Tidak hanya kepada si Kicik sih tetapi juga kepada Encik Suami dan bahkan kepada diri sendiri.

Perubahan yang dirasakan

Banyaaakk! Terutamanya lebih peka lagi ketika ngobrol dan berinteraksi dengan si Kicik. Kebetulan, sekarang ini adalah fase dimana si Kicik mulai banyaaaaaaakkk sekali pertanyaan. Cerewetnya udah kayak mamak-mamak. Plus tingkah copy paste yang semakin kelihatan. Bahkan dengan terang-terangan si Kicik pernah bilang ini, “Bubun, Aqeela pokoknya mau kayak yayah. Semuaaa mau yang kayak Yayah buat.” Alarm besar ini buat kami. Harus lebih berhati-hati dalam bersikap dan berbicara.

Lebih produktif gak?

Hmmm… Jujur belum bisa kasih jawaban. Karena apa yang dilakukan kemaren itu masih terlalu sedikit variabelnya. Untuk mengukur produktifitas komunikasi ini, diperlukan time frame yang lebih lama sepertinya. A big note for us to execute it, consistently..

Tantangannya…

Dibandingkan dengan teman-teman lain, mungkin tantangan yang dihadapi bermacam-macam. Tantangan terbesar yang saya alami justru dari diri sendiri. Menjalankan tiap strategi komunikasi itu gak gampang loh. Setiap strategi yang akan saya jalankan ke si Kicik harus saya pikirkan dengan matang. Karena saya memang ingin melihat langsung bagaimana reaksinya lalu melihat apa yang perlu ditambah dan apa yang perlu dikurang. Catatan-catatan ini yang kemudian bisa menjadi panduan saya nantinya.

Lalu, apa setelah ini?

Yang sulit justru adalah KONSISTENSI. Konsisten menjalankan apa yang sudah dipahami, direnungi dan dijalankan kemarin. Bukan hanya sekedar menuangkannya dalam bentuk foto, video maupun deskripsi singkat. What’s beneath it is way more important..

Semoga apa yang sudah dipelajari ini bisa terus dimaksimalkan penggunaanya dalam kehidupan kami sehari-hari. Demi membangun keluarga yang lebih harmonis. Demi membangun peradaban yang lebih bermakna.

Level 1 – Komunikasi Produktif Bersama si Kicik: Check!

Love,

 

Bubunnya Aqeela

 


 

Kisah Komunikasi Produktif saya bersama si Kicik bisa di cek di link berikut:

Hari 1: KISS (Keep Information Short & Simple) 

Hari 2: Tidak Bisa Menjadi Bisa

Hari 3: Menunjukkan Empati

Hari 4: Mengatakan Keinginan

Hari 5: Ganti nasihat menjadi refleksi pengalaman

Hari 6: Jelas dalam memberikan pujian dan kritikan

Hari 7: Intonasi & Suara yang Ramah

Hari 8: Ganti perintah dengan pilihan

Hari 9: Observasi

Hari 10: Ganti kata tidak bisa menjadi bisa

Hari 11: Mengatakan keinginan

Hari 12: Ganti perintah dengan pilihan

Hari 13: Mengendalikan Emosi

Hari 14: KISS (Keep Information Short & Simple)

Hari 15: Jelas dalam memberikan pujian dan kritikan

Dian Mariesta

Author: Dian Mariesta

You can call me Dian, a housewife living in the middle of hustle bustle of Kuala Lumpur but still cannot forget my own “kampong”, Indonesia. Living for more than 10 years in Malaysia still make me a pempek-lover, bakso addict, gado-gado enthusiasts, and bakmi devotee. Photography and writing are one of the things that keep me sane throughout my day as a devoted housewife.

Related Post

Please care to leave nice comment :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.