Yuk Lakukan Komunikasi Produktif dengan Suami dan Anak!

Minggu ini, resmilah perkuliahan Bunda Sayang Institut Ibu Profesional bermula. Tema pertama yang diangkat adalah Komunikasi Produktif. Materi yang diberikan cukup komprehensif, dalam dan banyak “menampar” saya. Bahwa sesungguhnya membangun komunikasi produktif itu tidaklah mudah. Banyak poin yang harus diperhatikan, dipahami dan dijalankan secara konsisten oleh seisi keluarga.

Tidak hanya menjalankan komunikasi produktif dengan diri sendiri, disini kami dibekali ilmu mengenai bagaimana membangun komunikasi yang produktif dengan pasangan dan anak. Tidak hanya dibekali ilmu saja, kami juga dituntut untuk mengaplikasikan setiap poin tersebut. Apa saja ya poinnya?

Komunikasi dengan Pasangan

Tidak ada yang sempurna. Termasuk proses komunikasi yang saya jalankan dengan Encik Suami. Materi komunikasi produktif dengan pasangan ini kami baca dan diskusikan bersama (walaupun sambil ketawa-ketiwi karena salah tingkah). Tapi poin-poin ini tentu bisa dijadikan pakem yang diapalikasikan di lingkungan keluarga kecil kami.

  • Clear & Clarify (2C)
  • Choose the Right Time
  • Kaidah 7-38-55
  • Intensity of Eye Contact
  • I’m Responsible for My Communication Result

Komunikasi dengan Anak

Suuulliittt! Sulit banget membangun komunikasi dengan anak. Tantangan tersendiri buat diri saya untuk bisa mewujudkan komunikasi produktif dengan si Kicik. Mengutip dari Materi Komunikasi Produktif Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional:

Anak-anak memiliki gaya komunikasi yang unik. Mungkin mereka tidak memahami perkataan kita, tetapi MEREKA TIDAK PERNAH SALAH MENG-COPY

Ini dia. Tidak pernah salah meng-copy.

Saya dan Encik Suami banyak kecolongan di bagian ini. Si Kicik dengan mudah dan cepatnya meng-copy apa yang kami ucapkan dan apa yang kami lakukan. Syukur-syukur men-copy hal yang positif. Tapi namanya manusia ada aja khilafnya. Ketika kami kecolongan bersikap kurang baik, si Kicikpun meng-copy hal tersebut. PR besar ini untuk kami harus bisa memberikan contoh yang baik.

Poin yang harus dititikberatkan untuk mewujudkan komunikasi produktif dengan anak? Buanyaaaak! Ada 11 poin yang tidak harus kami hafal dan pahami tetapi juga aplikasikan kepada si Kicik.

  • Keep Information Short & Simple (KISS)
  • Kendalikan intonasi suara dan gunakan suara ramah
  • Katakan apa yang kita inginkan, bukan yang tidak kita inginkan
  • Fokus ke depan, bukan masa lalu
  • Ganti kata “Tidak Bisa” menjadi “Bisa”
  • Fokus pada solusi bukan pada masalah
  • Jelas dalam memberikan pujian dan kritikan
  • Ganti nasihat menjadi refleksi pengalaman
  • Ganti kalimat interogasi dengan pertanyaan observasi
  • Ganti kalimat menolak/mengalihkan perasaan dengan kalimat yang menunjukkan empati
  • Ganti perintah dengan pilihan

Ngos-ngosan sih liat poin-poin ini sebenernya. Tapi setelah saya baca berulang kali, semua poin ini penting. Sangat penting untuk bisa membangun komunikasi produkti. Sangat penting untuk bisa mendekatkan diri dengan Encik Suami dan si Kicik. Sangat penting untuk bisa membantu kami merajut atmosfer keluarga yang lebih sehat dan bahagia. Insya Allah…

Terima kasih untuk materi minggu ini yang sangat bermanfaat, Institut Ibu Profesional!

Dan kemudian..

Pengaplikasian setiap poin ini akan tertuang dalam Games Tantangan 10 Hari kelas Bunda Sayang akan dimulai sebentar lagi. Semangat!

Love,

Bubunnya Aqeela

 

Sumber:
E-Book Komunikasi Produktif: Materi Kelas Bunda Sayang Sesi #1, Institut Ibu Profesional
Dian Mariesta

Author: Dian Mariesta

You can call me Dian, a housewife living in the middle of hustle bustle of Kuala Lumpur but still cannot forget my own “kampong”, Indonesia. Living for more than 10 years in Malaysia still make me a pempek-lover, bakso addict, gado-gado enthusiasts, and bakmi devotee. Photography and writing are one of the things that keep me sane throughout my day as a devoted housewife.

Related Post

1 Comment

  1. […] Tantangan 10 hari di Kelas Bunda Sayang Level 1 mengenai Komunikasi Produktif sudah saya lewati. Rasanya campur aduk banget! Mulai excited, seneng, sebel, lelah sampe gemes-pun […]

Please care to leave nice comment :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.