Membangun Komunitas & Peradaban: Penanggung Jawab Rumah Belajar Literasi Ibu Profesional Asia

Ruang Berkreasi Saya yang Baru: Penanggung Jawab Rumah Belajar Literasi Ibu Profesional Asia

“Every civilization dependes upon the quality of the individuals it produces” – Frank Herbert

Materi pada Diklat Ibu Profesional kali ini sangat menarik. “Membangun peradaban di komunitas bisa dijalankan seiring dengan membangun peradaban pada diri kita sendiri dan membangun peradaban di keluarga” (Materi Diklat Pengurus IP: Membangun Komunitas, Membangun Peradaban).

Seiring sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh Frank Herbert di atas. Semuanya akan kembali kepada keluarga, kepada individu masing-masing. Semakin berkualitas individu tersebut maka akan semakin berkualitas pula peradaban manusia itu sendiri.

Kini, saya memiliki peran dalam menumbuhkan peradaban yang lebih baik. Walaupun peran yang saya jalankan ini sangat kecil namun harapan agar bisa memberikan manfaat tetap terjaga. Selain bertanggung jawab untuk mendidik si Kicik, saya juga diberikan tanggung jawab tambahan untuk bisa membantu membangun peradaban yang berkualitas lebih luas lagi. Bukan, bukan di Indonesia. Tetapi untuk para teman-teman yang berada di Asia.

Rumah Belajar Literasi yang berada di bawah naungan Ibu Profesional Asia kini menjadi kendaraan yang bisa saya gunakan untuk membangun komunitas, pun membangun peradaban. Sumbangan yang akan saya berikan mungkin hanya setitik tapi harapan agar sang titik yang kecil itu kemudian bisa berubah menjadi garis, membesar dan kemudian membesar.

Kondisi dan Tantangan Member Ibu Profesional Asia

Terbatas dengan masalah geografis yang berjauhan justru bagaikan pisau bermata dua bagi kami dalam berkomunitas. Gadget menjadi medium utama untuk mengoptimalkan peran yang saya jalankan dalam komunitas ini. Manajemen gadget yang baik akan memberikan andil yang cukup penting dalam membangun komunitas Ibu Profesional Asia, secara khususnya. Menentukan porsi yang pas dalam penggunaan gadget untuk membangun komunitas juga harus di pikirkan masak-masak. Gadget sejatinya menjadi media perantara untuk berkomunikasi buka menjadi halangan dan tantangan.

Sehingga kemudian menjadi tantangan saya untuk bisa memaksimalkan penggunakan gadget secara optimal, terutamanya dalam membangun komunitas.

Time Zone. Sebuah tantangan yang kadang bikin pusing dan gemes. Perbedaan waktu setiap member menjadikan hal ini sebuah momok yang membingungkan. Menentukan waktu terbaik untuk bisa bercengkrama, berdiskusi dan bertukar cerita tanpa perlu mengganggu waktu domestik lainnya ternyata tidak mudah. Mungkin diperlukan ­trial and error terlebih dahulu untuk bisa menentukan waktu yang terbaik sehingga komunikasi yang terjalin bisa lebih optimal.

Apakah bakat saya dan bagaimana menggunakannya untuk kebermanfaatan komunitas

Menulis. Saya tidak pernah mengatakan bahwa menulis adalah bakat saya. Bahkan sejak SMA dulu ketika menjadi pengurus majalah sekolah, saya tidak pernah menyadari dan mendeklarasikan bahwa menulis adalah bakat saya. Saya sadar diperlukan usaha dan latihan terus menerus untuk bisa menulis sesuatu “yang enak dibaca orang”. Walaupun begitu, dengan sedikit bekal ilmu yang saya miliki, saya tentu ingin menyebarkan kebermanfaatan kepada komunitas. Bukan, bukan malah menjadi mentor atau orang yang menjadi rujukan dalam dunia tulis menulis. Justru bersama-sama dengan para member Ibu Profesional Asia lainnya agar bisa belajar dan berdiskusi bersama mengenai hal yang kita cintai, dunia literasi.

Perubahan yang akan dilakukan tahun depan

Sebelumnya, Rumah Belajar Literasi belum lahir di Ibu Profesional Asia. Fokus saya saat ini adalah ingin bisa menjadikan Rumah Belajar Literasi sebagai wadah para member yang ingin belajar bersama. Memantapkannya menjadi sebuah Rumah Belajar penebar manfaat kepada setiap membernya.

Ingin mengajak untuk bisa lebih mengenal dan mencintai buku dan penulisan.

Ingin membantu mempertajam kemampuan menulis.

Ingin pula menghasilkan karya yang bermanfaat.

Harapannya agar kami bisa membangun keluarga, membangun komunitas dan membangun peradaban melalui dunia literasi.

Salam Literasi!

Love,

Bubunnya Aqeela

 

Dian Mariesta

Author: Dian Mariesta

You can call me Dian, a housewife living in the middle of hustle bustle of Kuala Lumpur but still cannot forget my own “kampong”, Indonesia. Living for more than 10 years in Malaysia still make me a pempek-lover, bakso addict, gado-gado enthusiasts, and bakmi devotee. Photography and writing are one of the things that keep me sane throughout my day as a devoted housewife.

Related Post

2 Comment

  1. […] Penanggung Jawab Rumah Belajar Literasi Ibu Profesional Asia, salah satu program yang akan dijalankan secara rutin adalah Diskusi Whatsapp. Tujuan mengadakan […]

Please care to leave nice comment :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.