Mendidik Anak Secara Islami

Ketika saya mendengar ceramah Ust. Khalid Basalamah via Youtube, saya sangat tertarik dengan penjelasan beliau mengenai bagaimana mendidik anak secara Islami menurut ajaran Sahabat Nabi Muhammad SAW, Ali Bin Abi Talib RA. Dalam ceramahnya kali ini, beliau memaparkan kajian mengenai adab terhadap anak yang merujuk pada kitab Minhajul Muslim. Untuk mendengarkan kajian beliau secara lebih mendalam, teman-teman bisa merujuk video beliau di link berikut. Insya Allah, banyak sekali informasi yang bisa kita dapat sebagai bekal untuk membimbing anak-anak kita menjadi lebih baik.

Menurut beliau, Islam memiliki pakem-pakem tersendiri dalam metode pendidikan anak dan jika kita pelajari dan hayati lebih dalam, saya yakin bahwa metode pendidikan anak secara Islami memang yang terbaik. Lalu kenapa tidak saya ikuti saja?

Agar metode pendidikan Islam ini dapat selalu saya dan Encik Suami ingat, saya berinisiatif untuk mendokumentasikan rangkuman ceramah Ust. Khalid Basalamah sebagai rujukan. Syukur-syukur bisa menjadi rujukan untuk para orang tua lainnya.

Ali bin Abi Talib RA mengatakan bahwa, “Didiklah anak kalian dengan 7×3”. Lalu, apa itu 7×3?

 

7 Tahun Pertama dengan Kelembutan

Dalam rentang umur 0-7 tahun ini, anak-anak masih banyak mengeksplorasi segala hal yang ada di sekitarnya. Jiwa adventurous mereka sangat tinggi. Lompat sana lompat sini. Manjat sana manjat sini. Teriak sana teriak sini. Nangis sana nangis sini. Lah terus, apa dong yang musti kita lakukan? Ya kuncinya SABAR. Bahkan jika memang dirasa perlu, carilah media yang sesuai untuk si anak dapat menyalurkan “energi”-nya itu. Beberapa poin penting pada 7 tahun pertama ini adalah:

  • Tidak boleh sama sekali ada pukulan
  • Selalu diingatkan dengan lisan
  • Selalu dirangkul

 

7 Tahun Kedua dengan Ketegasan

Tegas bukan berarti keras! Keras disini maksudnya adalah menggunakan kata-kata yang kasar, mata melotot, menunjuk-nunjuk, bahkan hingga memukul. Justru yang menjadi poin utama pada 7 tahun kedua ini adalah bagaimana agar kita dapat mengajarkan anak disiplin. Disiplin dengan ketegasan, bukan kekerasan.

 

7 Tahun Ketiga dengan Musyawarah

  • Untuk di 7 tahun ketiga ini, ada sedikit perbedaan bagaimana mendidik anak lelaki dan perempuan. Khusus untuk anak perempuan, mereka haruslah dipandu dan dilindungi, terutamanya oleh sang Ibu. Disinilah peran penting Ibu untuk dapat membentuk anak perempuan menjadi wanita dewasa yang Islami. Bagaimana caranya? Tentunya dengan memberikan contoh nyata kepada sang anak. Dan jujur, ini adalah pekerjaan rumah saya yang paling besar untuk bisa membimbing si Kicik menjadi wanita Islam yang jauh lebih baik dari saya.
  • Berbeda dengan anak laki-laki, mereka harus bisa diajak bermusyawarah dan berdiskusi dalam setiap pengambilan keputusan di rumah, bahkan untuk hal-hal sepele. Kenapa? Karena merekalah calon-calon pemimpin masa depan. Merekalah calon pemimpin keluarga mereka nantinya. Anak laki-laki harus terus dilatih jiwa kepemimpinannya agar bisa menjadi pemimpin yang adil dan amanah. Biarkan mereka menyampaikan ide-idenya dengan lugas dan lantang sehingga nantinya mereka tidak akan canggung. Tetapi jika ide yang mereka sampaikan tidak sesuai, ajaklah bermusyarah dan berdiskusi. Sampaikan kepada mereka, apa yang menyebabkan kita tidak setuju dengan ide yang mereka paparkan. Bukan semata-mata hanya mematahkan argumen mereka tanpa ada penjelasan apa-apa.

Memang berat rasanya memegang amanah sebagai orang tua. Semoga kita para orang tua dapat selalu diberikan kekuatan dalam mendidik anak-anak kita hingga menjadi anak yang Soleh dan Solehah. Aamiin…

Love,

Bubunya Aqeela

Related Post

Tweet about this on TwitterPin on Pinterest0Share on Google+0Share on Facebook57

2 Comment

  1. Bener banget Di. Aku sendiri kadang dianggap terlalu lembut sama anak lanang. Tetapi aku ingat batasan 7 tahun itu. Mudah2an nggak salah langkah. Aamiin.

    1. dianmariesta says: Reply

      Aamiin Aamiin kak.. Salam buat Ais ya..

Please care to leave nice comment :)