Menghadapi Anak yang Mulai Bersekolah

Ini dia babak baru dalam kehidupan si kicik. Awal tahun ini, Aqeela sudah saya masukkan ke playschool dengan tujuan agar ia dapat bersosialisasi dengan lebih baik lagi. Maklum, tinggal di apartemen membuat dunia sosial si kicik menjadi sedikit stuck. Makanya, saya dan encik suami memutuskan untuk mulai mengenalkan sekolah ke Aqeela.

Dengan keputusan bahwa kami harus memasukkan Aqeela ke sekolah Islam, akhirnya 4 Januari 2016 Aqeela resmi menjadi murid Playhouse di sekolah Brainy Bunch Islamic Montessori di Taman Tun Dr. Ismail, Kuala Lumpur.

Ternyata yang leibih senewen dan deg-degan di hari pertama sekolah, ya SAYA. Si kicik malah hepi banget dan encik suami yang sudah bela-belain cuti, juga tampak tenang. Alhamdulillah, hari pertama berjalan cukup lancar jaya. Menurut guru-gurunya, Aqeela tidak begitu rewel walaupun ada menangis sedikit tetapi masih bisa terkendali.

Ada beberapa hal yang saya take note dari pengalaman ini:

  1. Anak menjadi lebih gampang tantrum. Salah satu hal yang sangat mudah membangkitkan tantrumnya adalah ketika dia terlalu penat. Pada bulan-bulan pertama, setiap kali sampai dirumah, Aqeela pasti dan selalu akan tantrum. Banyak sekali pemicunya. Mulai dari tidak mau masuk ke rumah, tidak mau mandi eh tapi setelah di mandikan malah tidak mau selesai mandi, tidak mau turun dari mobil, tidak mau jalan karena hanya mau di gendong, dan sebagainya dan sebagainya.
  1. Selalu tanamkan bahwa sekolah adalah tempat yang fun layaknya taman bermain. Dengan selalu memberikan pemahaman bahwa sekolah adalah tempat yang menyenangkan, saya yakin anak-anak pasti akan mengerti. Bahkan sekarang, jika waktu musim liburan datang, Aqeela justru selalu bertanya kenapa dia tidak ke sekolah. Karena pada dasarnya dia merasa sekolah itu layaknya tempat bermain untuk dia.
  1. Sabar sabar sabar. Pernah dalam suatu hari, Aqeela berdiri di pojok kamar sambil menangis dan menggeleng. Dia ingin memberi tahu kami bahwa dia tidak ingin pergi ke sekolah. Disinilah sabar menjadi kunci utama dalam proses ini (dan proses mendidik anak, tentunya).
  1. Kuatkan hati. Nah, walaupun si anak merengek dan meronta untuk tidak pergi sekolah, saya dan suami tetap bersikukuh mengantarkan Aqeela ke sekolah tanpa absen satupun. Selama satu bulan pertama, kita harus “tega” kepada sang anak sembari terus memberi pengertian bahwa mereka harus pergi ke sekolah.
  1. Kemungkinan anak terserang penyakit akan lebih besar. Aqeela sebenarnya termasuk anak yang imunitasnya cukup kuat. Selama 2 tahun pertama, ia tidak pernah demam dan jarang sekali sakit. Yang saya ingat, ketika dia berumur 1 tahun 11 bulan, Aqeela sempat mengalami diare. That’s it. Selebihnya, ia tidak pernah sakit. Tapi sejak mulai musim persekolahan dimulai, hampir tiap bulan Aqeela terserang demam dibarengi dengan batuk pilek dan hal ini berlangsung lebih kurang selama 4 bulan. Saya tahu Aqeela sedang membiasakan tubuhnya dengan aktivitas barunya ini. Ditambah lagi dengan adanya virus-virus yang tersebar di sekolah. Jadi, jangan takut jika di awal-awal masa persekolahan, anak akan mudah sakit. Cukupi saja asupan makanan yang diperlukan untuk meningkatkan imunitas anak.

Alhamdulillah, setalah menjalani proses yang keras ini selama lebih kurang 1 bulan, Aqeela sudah mulai memahami bahwa aktivitas dia setiap hari Senin hingga Jumat adalah pergi sekolah. Dan si kicik selalu terlihat bahagia ketika ia mau pergi sekolah. It’s priceless!

Love,

Bubunnya Aqeela

Related Post

Tweet about this on TwitterPin on Pinterest0Share on Google+0Share on Facebook61

4 Comment

  1. Dian + Doli udah pernah baca ulasan Sara Risman/ Wina Risman di group Parenting with Elly Risman and family tentang sekolah usia dini, sosialisasi utk usia dini dan yg berhubungan?

    1. dianmariesta says: Reply

      rasanya utk tema yang itu belom, kak. Mungkin bisa di share? 🙂

  2. Semua poin diatas masuk diakal….umumnya dialami anak-anak…
    Baru mampir salam kenal…

    1. dianmariesta says: Reply

      Salam kenal, mba.. 🙂

Please care to leave nice comment :)