Mensyukuri Kebangsaan

Sedari kecil hingga saya duduk dibangku SMA, saya termasuk orang yang cukup apatis. Terutamanya berkaitan dengan negeri tercinta, Indonesia. Tidak ada satu halpun yang memicu saya untuk mencintai negeri yang penuh dengan korupsi, dagelan politik, hingga masyarakat yang acap kali tidak menghargai sekitarnya.

Sehingga saya selalu bermimpi untuk menjelajahi Asia, Eropa, hingga Amerika. Bermimpi untuk hidup bertemankan salju, menggunakan sepatu boot tinggi setiap hari, dan berbalutkan jaket panjang yang menghangatkan. Bermimpi bisa melahap foei gras, beef wellington, hingga kabsa. Bermimpi untuk mengenakan Sari, Yukata, dan Klederdrach. Bermimpi untuk bertemu orang-orang yang gemar bercerita mengenai kisah hidup mereka berkeliling dunia. Bermimpi untuk mencoba bisa keluar dari negeri ini.

Dan akhirnya saya keluar dari negeri ini, walaupun hanya bermigrasi ke negeri jiran. Bertemu dengan para adik-kakak yang mempunyai budaya dan kebiasaan yang hampir mirip. Bertukar sapa dengan para sesama rumpun dengan bahasa yang hampir mirip.

Tapi kenyataanya, saya mengalami culture shock. Di bulan-bulan pertama kedatangan saya, saya merasakan kerinduan yang amat sangat. Saya tetap rindu dengan kampung halaman. Saya tetap rindu dengan pempek, gado-gado, bakso, mie ayam hingga nasi padang. Saya tetap rindu acara infotainment yang selalu memberitakan sensasi para artis bukan prestasi mereka, acara musik yang kerap menampilkan  band dan penyanyi yang lip sync, sinetron dengan pemain yang itu-itu saja, bahkan hingga acara berita yang suka memojokkan narasumbernya.

Saya rindu. Rindu sekali.

Hingga akhirnya saya tersadar. Saya justru bermimpi ingin melihat seberapa indahnya negeri saya ini, mulai dari Sabang hingga ujung Papua. Ingin saya hirupi udaranya, selami pantainya, panjati gunungnya dan nikmati pemandangannya bersama orang tersayang. Tidak lagi bermimpi bermain salju, tetapi bermain dengan ikan-ikan kecil di Gili Trawangan. Tidak lagi berharap menggunakan sepatu boot, tetapi menggunakan sendal jepit butut sembari mengelilingi Malioboro. Tidak lagi berbalutkan jaket panjang yang menghangatkan tetapi berbalutkan baju selam di Raja Ampat. Tidak lagi bermimpi melahap foei gras atau beef wellington, tetapi bermimpi untuk bisa memakan mie cakalang dan roa rica-rica. Tidak lagi bermimpi untuk bertemu si rumpun lain, tetapi bercerita dengan para kakek-nenek penjual sala laua’ di sebuah pasar di Pariaman.

Betul kata orang, untuk kita bisa mencintai sesuatu, terkadang kita perlu merasakan kehilangan itu terlebih dahulu. Rasa kehilangan yang tidak akan tergantikan dengan apapun yang akan kita jumpai di tempat lain. Rasa kehilangan yang justru akan semakin menusuk ketika kita melihat betapa negeri itu sungguh memberikan implikasi yang besar dalam hidup saya. Kemarin, sekarang, dan bahkan di masa depan.

Sehingga saya mulai belajar mensyukuri apa yang ada di sekitar saya. Mulai belajar mensyukuri kebangsaan.

 

 

 

*Ditujukan untuk Kompetisi Blog “Catatan Cinta Kebangsaan” oleh http://kebangsaan.org/

Related Post

Tweet about this on TwitterPin on Pinterest0Share on Google+0Share on Facebook0

3 Comment

  1. Aah bun very nice post.. kata2 ny tersusun ciamik dan menyenangkan

    1. dianmariesta says: Reply

      makasiiihh… 🙂

  2. Waaahhhh Ibu selalu terhalang waktu dan kerjaan yg ga abis2 untuk keliling Indonesia. Indonesia itu indaaaahhhh banget… masyarakatnya uniiiikkkk banget…. banyak tempat dan banyak hal yang ga bakalan habis dikunjungi. Tapi Dian ga sendiri. Coba tanya mereka2 yg sering berlibur keluar negeri, meski sanak saudaranya semua di Indonesia, ke mana aja di Indonesia udah mereka jelajahi. Paling sering jawabannya Bali.
    BTW, pa kabar, Dian?

Please care to leave nice comment :)