Negeri 5 Menara (2009)

 

Man Jadda Wajadda!! Siapa yang bersungguh-sungguh pasti sukses

 

Mantera itu yang sepertinya menjadi kalimat primadona bagi setiap pembaca buku ini. Seperti sihir, ia akan menusuk mata ketika membaca, menimbulkan percikan reaksi otak yang terstimulasi, jantung yang semakin berdegup kencang, membuat kelenjar air mata menjadi terangsang, dan bahkan membuat hidung terasa seperti sedang pilek.

 

Reaksi-reaksi seperti itu yang sering saya rasakan selama perjalanan spiritual yang menawan, kocak dan tegang. Ya, saya akui saya cukup tenggelam dengan kata-kata manis dari A.Fuadi.

 

Mungkin dengan berlatar belakang seorang jurnalis, Fuadi sama sekali tidak membuat saya bosan. Dengan gaya observasi dan deskriptif yang tajam ala jurnalis, saya tidak melewatkan sedikitpun kalimat-kalimat yang ada. Disitulah kelebihan dari novel ini karena biasanya ketika mulai bosan dengan sebuah novel, saya akan cenderung untuk membaca hal-hal penting saja dan berlompat-lompat. Tetapi, dari awal saya cukup menyadari kalau “Kenapa ya saya tidak membaca melompat?? Tumben”.

 

Cerita-cerita yang ditampilkan memang sepertinya khas pondok. Stempel yang sudah ada dimasyarakat mengenai pondok pesantren yang kaku dan membosankan sama sekali tidak ditampilkan di novel ini. Mata kita akan terbelalak dengan adanya cerita-cerita lucu mulai dari penerimaan siswa baru, tata cara belajar yang sangat sangat bermanfaat (saya berharap kapan ya sekolah-sekolah konvensional di Indonesia bisa juga menerapkan gaya yang sama), dorm life, bahkan sampai dengan kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler yang sangat beragam.

 

Cuma satu hal yang perlu saya garis bahawi dari novel ini. Saya menemukan beberapa kalimat yang berulang-ulang. Yang lebih gawatnya lagi, kalimat yang berulang kembali itu terdapat pada paragraf selanjutnya. Saya tidak tahu apakah itu kesalahan penulis atau justru editornya (kalo menurut saya sih editornya). Sayang sekali rasanya.

 

Di akhir cerita, saya semakin merasa kalau novel ini mirip dengan Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata. Mungkin karena dilatarbelakangi dengan tema yang tidak jauh berbeda yaitu mengenai mimpi plus ketika salah satu karakter yang paling pintar diantara karakter-karakter utama lainnya harus keluar dari pesantren (mirip kisahnya Lintang di Laskar Pelangi).


Overall
buku ini saya beri:

 

Related Post

Tweet about this on TwitterPin on Pinterest0Share on Google+0Share on Facebook0

Please care to leave nice comment :)