Indikator Profesionalisme Perempuan sebagai Individu, Istri dan Ibu

Jujur saya sangat terbantu dengan NHW yang kedua ini mengenai Indikator Profesionalisme. Dengan ini, proses belajar saya sebagai individu, istri dan sebagai ibu bisa dinilai dan kemudian bisa ditelah lebih lanjut apakah ada hal-hal yang ingin saya perbaiki.

Menjadi individu, istri dan ibu yang lebih baik tentu tidak mudah. Menurut saya, diperlukan waktu seumur hidup (bahkan mungkin tidak cukup) agar bisa memenuhi ekspektasi diri sendiri maupun ekspektasi orang yang kita sayang.

Setelah memahami kunci indikator yang diberikan pada materi, saya dan suami berkomunikasi cukup intens untuk membahas ini. Apa saja indikator yang bisa saya share dan indikator apa saja yang sebaiknya tidak perlu kami beritahukan kepada orang lain. Cukup kami saja yang tahu.

Indikator Profesionalisme Perempuan sebagai Individu

Jika diurutkan dan dijabarkan apa yang ingin saya raih sebagai individu maka list ini akan sangat panjang. Tetapi ada 2 indikator utama yang menurut saya cukup penting:

Saya ingin tetap hidup sehat agar bisa melakukan aktivitas dengan lebih maksimal. Tidak muluk-muluk, saya ingin bisa berolahraga 3x dalam satu minggu dalam bentuk apapun. Mulai dari jogging, angkat beban di gym, latihan kardio, zumba, badminton dan sebagainya. Penting untuk saya bisa melakukan ini dan saya berharap bisa melakukannya selama setidaknya 3 bulan pertama secara intens di tahun 2018 ini.

Belajar agama itu penting. Bahkan sangat penting. Implikasi dari pemahaman agama yang baik akan berdampak kepada kesinambungan hidup saya dan keluarga. Saat ini, salah satu pengajian rutin yang saya lakukan adalah mendatangi pengajian mingguan di persatuan Al Khaadem Malaysia dibawah asuhan Ust. Hussein Yee. Saya ingin bisa selalu konsisten datang dan menimba ilmu disini, setidaknya untuk 3 bulan pertama di tahun ini.

 

Indikator Profesionalisme Perempuan sebagai Istri

Adalah penting untuk saya bisa membahagiakan suami saya. Alhamdulillah, pak suami tidak menuntut banyak ketika saya bertanya ini tetapi justru membuat saya gemas. Mungkin ada hal-hal yang perlu saya perbaiki dalam kehidupan berumah tangga kita. Tidak banyak memang yang pak suami jelaskan kepada saya. Yang dia inginkan adalah saya bisa tetap terus membuatnya bahagia dan tertawa bersama mengarungi kehidupan ini.

Saat ini, pak suami dalam tahap yang sedang sangat tertarik dengan olahraga. Mau tidak mau, saya juga selalu diberikan semangat untuk bisa berolahraga bersama. Salah satu goal yang di set oleh pak suami adalah berat badan saya bisa mencapai 52 kg, sama seperti pada saat kami menikah dulu. Wah, 2kg lagi nih yang musti saya hilangkan. Dan tidak mudah menurunkannya! Perlu komitmen untuk berolahraga dan makan sehat. Sama seperti lainnya, saya akan coba 3 bulan pertama ini.

 

Indikator Profesionalisme Perempuan sebagai Ibu

Untuk yang satu ini, jujur saya juga mempunyai banyak sekali hal yang harus saya take note dan kemudian perhatikan perkembangannya 3 bulan kedepan ini. Banyak hal yang ingin saya lakukan untuk anak saya. Indikator yang saya jabarkan ini adalah apa yang saya rasa perlu untuk diberikan kepada anak saya.

Ketika bertanya kepada Daanya, jawaban yang diberikan masih sangat random dan absurd. Akhirnya indikator yang saya putuskan ini justru murni dari buah pikiran saya dan pak suami mengenai hal apa yang harus kita perhatikan untuk memaksimalkan tumbuh kembang Daanya.

Secara kesuluruhan, saya ingin sekali menjadi GURU KEHIDUPAN Daanya. Guru dalam berbagai aspek kehidupannya. Akademik, sosial hingga agama. Salah satu yang ingin saya ajarkan dan terapkan kepada Daanya adalah agar saya bisa membimbing dia untuk menghafal surat-surat dari Juz ke 30. Satu surat dihapalkan selama 1 bulan. Walaupun sebenarnya jangka waktunya cukup panjang, tetapi untuk saat ini rasanya itu sudah cukup. Seiring berjalannya waktu nanti akan bisa dipendekkan lagi jangka waktunya. Sayapun akan mencobanya di 3 bulan pertama ini.

Sejak saya mulai mengambil pekerjaan freelance sebagai penulis, saya merasa waktu saya untuk membaca dengan Daanya menjadi sangat kurang. Dulu, setiap sore kami selalu membaca bersama dan melahap begitu banyak buku. Hal inilah yang kemudian berkembang menjadi kebiasaan membaca buku Daanya yang luar biasa dan membuat ia menjadi salah satu anak yang sangat cepat bisa membaca. Saya ingin agar saya bisa membaca lagi bersama dengan Daanya setiap hari. Setidaknya 2 sampai 3 buku per hari.

Semoga indikator ini bisa saya jalankan dengan semaksimal mungkin.

 

#NHW2

#MENJADIIBUPROFESIONALKEBANGGAANKELUARGA

#MATRIKULASI BATCH #5

#INSTITUTIBUPROFESIONAL

 

Love,

Bubunya Aqeela

 

Dian Mariesta

Author: Dian Mariesta

You can call me Dian, a housewife living in the middle of hustle bustle of Kuala Lumpur but still cannot forget my own “kampong”, Indonesia. Living for more than 10 years in Malaysia still make me a pempek-lover, bakso addict, gado-gado enthusiasts, and bakmi devotee. Photography and writing are one of the things that keep me sane throughout my day as a devoted housewife.

Related Post

1 Comment

  1. […] setiap hari saya memang terbayang-bayang dan terngiang-ngiang dengan apa yang sudah tuliskan di NHW #2. Seperti sedang membuat “Surat Perjanjian” dengan diri sendiri. Ya namanya surat […]

Please care to leave nice comment :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.