Subhanallah! Susahnya mendidik anak menjadi Soleh ya

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Jika seorang manusia mati maka terputuslah darinya amalnya kecuali dari tiga hal; dari sedekah jariyah atau ilmu yang diambil manfaatnya atau anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631)
Hayoooo angkat tangan!! Siapa yang pengen memiliki anak soleh? Kaya atau miskin, laki-laki atau perempuan, tinggal di kota atau di desa, ulama atau orang biasa, berpendidikan atau kurang berpendidikan, presiden hingga tukang becak, pasti pernah mengucapkan bahwa mereka ingin memiliki anak-anak yang soleh.

Tidak mudah. Sulit. Banyak tantangan. Banyak godaan.

Itu yang selalu menjadi halangan bagi tiap orang tua untuk mencetak anak yang soleh. Ada beberapa kalimat yang pernah saya dengar dari salah satu kajian:

“Kalau mau anaknya Soleh, ya orang tuanya harus Soleh juga dong!”

“Gimana anaknya bisa jadi Hafidz atau Hafidzah, kalau orang tuanya aja males buka Al-Quran”

Waduh. Rasanya hati ini seperti langsung di tusuk. JLEB! Masih banyak sekali rasanya hal-hal yang harus diperbaiki di diri kami sebagai orang tua. Mulai dari ibadah yang kurang maksimal hingga sikap keseharian yang juga masih perlu diperbaiki.

Beberapa ceramah, buku dan artikel yang saya baca mengenai bagaimana membangun anak soleh memiliki benang merah yang sama. Yang harus diperhatikan pertama adalah TAUHID-nya, lalu Aqidah dan kemudian masuk ke ranah berbagai macam ibadah yang wajib dilakukan sebagai seorang muslim.

Klise rasanya mendengar orang-orang mengatakan, kalau mau anak Soleh ya harus rajin Shalat, mengaji, bersedekah, puasa dan naik Haji ketika nanti sudah mampu. Jika melihat si anak rajin Shalat, mengaji, bersedekah dan berpuasa, langsung di cap anak Soleh.

Padalah perjuangan orang tua membangun anak Soleh tidak hanya sekedar itu saja. Membangun karakter anak yang benar-benar meyakini bahwa Tuhan yang dia sembah hanyalah Allah bukan yang lain, jauh lebih sulit. Justru bagi saya, menanamkan Tauhid kepada anak jauh lebih menantang dibandingkan dengan mengajak anak Shalat. Mendoktrin anak tentang Tauhid ini jauh lebih sulit dibandingkan dengan mengajak anak bersedekah.

Ah, cemen rasanya kalau saya menyerah begitu saja. Kalau boleh meminjam kalimatnya om Donny di 5cm:

“Biarkan keyakinan kamu, 5 centimeter mengambang di depan kening kamu. Dan…  Kemudian yang kamu perlukan hanyalah kaki yang akan melangkah lebih jauh, tangan yang akan berbuat lebih banyak, mata yang akan melihat lebih lama, leher yang akan lebih sering mendongak, tekad yang setebal baja, dan hati yang akan bekerja lebih keras serta mulut yang selalu berdoa.”

Keyakinan yang saya letakkan 5cm di kening saya adalah untuk bersama-sama Encik Suami membantu si Kicik agar bisa menjadi seorang wanita Solehah seutuhnya. Insya Allah.

Love,

Bubunnya Aqeela

Tulisan ini adalah salah satu collaborative blogging saya bersama Bundien dengan tema: Islamic Parenting. Simak kisah sahabat saya “Mengajak si Kecil Mencintai Hijab Sejak Dini” di sini ya.

Related Post

Tweet about this on TwitterPin on Pinterest0Share on Google+0Share on Facebook17

2 Comment

  1. harus lebih kerja keras skrg mak, secara kan zaman udh gni amat. dan mmg harus dimulai dr ortunya dulu. ini jg PR bgd bwt aku mak. Tapi yup, taruh 5 cm di kening. : )

  2. Bener mak, susah bgt. Aku “iri” sama anak temen yg udah ikut tahfidz dan hafal bbrpa juz. Hikz

Please care to leave nice comment :)