Takut (2008)

Takut adalah antologi dari 6 film horor pendek dengan 7 sutradara dan tidak hanya 1, 2 atau 3 jeritan tetapi beribu jeritan yang ditampilakan untuk para penikmat horor berkualitas Indonesia. Bisa dibilang, selama beberapa tahun ini penonton hanya disajikan dengan “horor esek-esek” yang terkadang pula ditambah dengan sedikit “komedi garing” segaring kerupuk Palembang (wuii.. jadi pengen!)

Setelah film horor Indonesia terakhir yang saya tonton adalah Kuntilanak (dan itu membuat saya kapok nonton film horor Indonesia lagi), saya tertarik dengan film TAKUT karena jajaran sutradara dan cast yang cukup menantang.

Ekspektasi saya cukup tinggi sebelum menonton film ini. Dengan bermodalkan review-review dari website yang saya baca, saya memulai perjalanan gelap ini dengan 7 nahkoda yang setia memandu.

Bermula pada opening credit yang sejujurnya saya tidak terlalu terpukau dengan animasi-animasi yang ditampilkan. Terlihat sedikit kasar, tetapi jika membandingkan dengan perkembangan animasi di Indonesia, saya cukup puas dengan tampilan tersebut.

Masuklah saya ke perjalanan pertama dengan nahkoda Rako Priyanto (Ungu Violet, Merah Itu Cinta, Preman in Love). Cukup shock dengan tampilan warna yang aneh tetapi justru itulah yang membuat film ini menjadi sesuatu yang “lebih”. Cerita yang saya rasa cukup menegangkan sebagai pembuka film dan tentunya penonton akan merasakan jet coaster di film SHOW UNIT ini. Sangat sesuai sebagai appetizer.

Ketika masuk ke labirin kedua, saya langsung excited melihat Dina Olivia. She’s one of my favorit actress. Tetapi ketika melihat Riri Riza (Petualangan Sherina, Gie, Laskar Pelangi) sebagai sutradara film ini, saya cukup was-was apakah dia bisa menampilkan ketegangan yang sama dengan Rako?? Ternyata tidak. Saya cukup kecewa dengan film ini. Sinematografinya terkesan hambar walaupun cerita mengenai kejawen ini cukup kuat. Tapi luckily Dina bermain dengan sangat-sangat baik menampilkan ketakutannya di film TITISAN NAYA.

Berawal dengan scene mata ditambah dengan sedikit unsur “hot”, PEEPER membawa kita kepada kebiasaan para lelaki yang berujung kepada malapetaka (makanya buat cowo-cowo jangan suka ngintip ya!). Masih dengan tema kejawa-jawaan, Ray Nayoan menampilkan sexy horor yang tentunya gak esek-esek. Termasuk salah satu cerita yang cukup kuat tetapi tidak kuat dibagian editing.

THE LIST cukup memberikan saya angin segar dengan “sedikit” kebosanan yang ada di 2 film pendek sebelumnya. Menggambarkan kebiasaan masyarakat Indonesia yang masih berkiblat kepada dunia mistis a.k.a. dukun. Kita dibuat tergelak dan bergidik oleh Robby Ertanto. Walaupun dikatakan sebagai lulusan baru IKJ, saya sangat menikmati film ini dibandingkan 3 seniornya diatas. Cerita yang simpel namun memikat ditambah dengan spesial efek yang sangat-sangat memukau mata saya. Terutama ketika kesakitan yang dirasa oleh Shanty ketika seekor kelabang raksasa bersarang ditubuhnya dan ketika bola mata Fauzi Baadila membesar ketika dia mati. So Creepy!!!

Raditya Sidharta (The Shaman) bisa dibilang mendapatkan tempat yang cukup baik dalam urutan film Takut ini. Seperti ekspektasi saya, semakin kebelakang maka ketegangan semakin meningkat. Bercerita mengenai zombi-zombi hidup pemakan manusia yang mengincar mangsanya dengan buas dan buas pula sang make up artist dalam menampilkan zombi tersebut. Disitulah mungkin letak kelebihan Raditya (yang katanya film The Shaman juga menampilkan efek make up yang gila-gilaan). Tidak hanya itu, dibandingkan dengan 4 film sebelumnya, sinematografi dan lighting film ini yang paling jempolan.

Bintang 5 sanggup saya berikan untuk The Mo Brothers dalam film DARA ini. Sinematografi oke, art asik, lighting pas, music score nendang, dan akting yang sangat-sangat menawan dari Shareefa Danish. Wajar saja film Rumah Dara banyak masuk festival luar negeri. Ditambah dengan menangnya Danish di ajang Puchon International Fantastic Film Festival sebagai Best Actress. Saya tidak perlu berkata-kata banyak lagi untuk film DARA, it’s such beautiful ending untuk antologi TAKUT ini. Standing ovation untuk Mo Brothers. Semakin tidak sabar menonton film Rumah Dara. Hehehehe…

Related Post

Tweet about this on TwitterPin on Pinterest0Share on Google+0Share on Facebook0

6 Comment

  1. Muka si Daanish.. buset! kayak noni psycho calon penunggu rumah kuno.. mantab ekspresiny.

    napo dk pasang foto fauzi baadilah yang koit? kan lebih mengundang buat nonton, haha..

    it yg di tengah, yakin film horor? kayak film action dink..

    yg paling serem rumah dara y dee?? pengen nonton, tp pasti dk sanggup melek, hoho..

  2. hehehe..emang si Danish gila maennyaa!!

    Yang ditengah itu kan tentang zombi2 gitu mbaaa..

    sebenernya pengen juga nyari gambar yang laen tapi pada gak ada i mbah google..

  3. wew.
    aku ketinggalan banyak film2 indonesia.

    untuk menonton saja sulit, mahal nian.
    huks.

    bagusan mano samo rumah dara dian?

  4. hehehe….
    emang disano mahal nian yo kak nonton??

    aku blom nonton rumah dara..
    kmaren katonyo sempet dak lulus sensor di Malaysia. Jadi cuma nunggu DVD ato VCDnyo bae lah kak..

  5. kan ado d youtube kak .. =D

  6. aponyo yang di youtube dek?

Please care to leave nice comment :)