[Book Review] Tenggelam dengan indahnya wewangian ala Dewi Lestari di Aroma Karsa

Jujur, ekspektasi yang saya set ketika mulai membaca Aroma Karsa ini cukup rendah. Kali ini saya tidak ingin berekspektasi lebih, sama ketika pada saat itu Perahu Kertas mulai dipasarkan. Bukan, bukan berarti saya tidak suka dengan kisah Perahu Kertas. Tapi saya percaya bahwa Mba Dee bisa menulis kisah cinta dengan kemasan yang “Dee Banget” which is hal ini tidak saya temukan di Perahu Kertas. Terlalu ringan, terlalu remaja, terlalu manis…

Lalu, Aroma Karsa gimana dong?

PUAS BANGET!

Ini dia yang saya cari setelah sekian lama berkutat dengan kisah cinta ala Ika Natassa. Aroma Karsa seperti memiliki magnet yang membuat banyak orang kepincut dengan kisahnya. Bikin penasaran, deg deg-an, takut, kebingungan hingga gemas dengan segala intrik di dalamnya. Maka wajar jika banyak yang memberikan komen positif untuk novel ini. Bahkan beberapa orang tidak bisa lepas dari novel ini sejak pertama kali membacanya. Pengen langsung dilahap habis secepatnya!

Lalu, apa saja sih hal-hal yang akan kalian temui di Aroma Karsa?

Menemukan sisi Dee yang bikin pembacanya pusing dengan segala istilahnya

Mulai dari Supernova: Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh, kita akan menemukan berbagai macam istilah-istilah yang jarang atau mungkin tidak pernah kita dengar. Mostly, memang terkait dengan istilah-istilah science yang akan kita jumpai di Supernova. Di Aroma Karsa? Ada kok! Sisi Mba Dee yang ini akan kita temui lagi di Aroma Karsa.

Serial Supernova – IEP belum release waktu itu

Jika Supernova kental dengan unsur religi, Aroma Karsa kental dengan historis Nusantara. Kita diajak masuk membayangkan kisah-kisah lawas Nusantara ala Kerajaan Zaman Dahulu. This kind of fantasy yang membuat saya seperti kembali mengingat-ingat bahwa Mba Dee selalu memukau dengan imajinasi yang ia gambarkan di novelnya. Imaji yang ia gambarkan terkesan hidup dengan konsep yang matang dan sangat apik. Seakan-akan kisah ini memang nyata.

Menulis tak seharusnya mengkhayal semata

Ini dia yang kemudian membuat Mba Dee memilki kesan tersendiri di hati saya. Ia tidak hanya sekedar berimajinasi dan berfantasi sehingga asyik sendiri dengan ke-absurd-an itu. Mba Dee lebih memilih menulis dengan riset yang mendalam dan hal ini memang terpancarkan dari serial Supernova. Saya yakin, riset untuk Aroma Karsa-pun tidak main-main. Dalam, intimate namun dengan gaya penulisan pop yang ringan.

Kisah cinta kali ini berbeda (SPOILER ALERT!)

What a brilliant ending! Maaf ya kalau sedikit Spoiler. Hehehehehe.. Tapi berbicara soal ending novel ini, rasanya saya ingin berteriaaaakk.. Aaaaaaaaaakkk!! Ending-nya keren banget sih mba!! Kisah cinta dua insan tidak selalu berakhir indah layaknya kisah Disney “… and they lived happily ever after”. Justru kisah cinta dua insan dimulai setelah ini. Panik, deg-degan sekaligus gemas membaca halaman terakhir Aroma Karsa.

Pengalaman membaca Aroma Karsa ini seperti sedang minum kopi susu panas. Hangat dan manis di awal namun sisa-sisa pahit itu akan tetap terasa di akhir.

 

Sinopsis:

Dari sebuah lontar kuno, Raras Prayagung mengetahui bahwa Puspa Karsa yang dikenalnya sebagai dongeng, ternyata tanaman sungguhan yang tersembunyi di tempat rahasia.

Obsesi Raras memburu Puspa Karsa, bunga sakti yang konon mampu mengendalikan kehendak dan cuma bisa diidentifikasi melalui aroma, mempertemukannya dengan Jati Wesi.

Jati memiliki penciuman luar biasa. Di TPA Bantar Gebang, tempatnya tumbuh besar, ia dijuluki si Hidung Tikus. Dari berbagai pekerjaan yang dilakoninya untuk bertahan hidup, satu yang paling Jati banggakan, yakni meracik parfum.

Kemampuan Jati memikat Raras. Bukan hanya mempekerjakan Jati di perusahaannya, Raras ikut mengundang Jati masuk ke dalam kehidupan pribadinya. Bertemulah Jati dengan Tanaya Suma, anak tunggal Raras, yang memiliki kemampuan serupa dengannya.

Semakin jauh Jati terlibat dengan keluarga Prayagung dan Puspa Karsa, semakin banyak misteri yang ia temukan, tentang dirinya dan masa lalu yang tak pernah ia tahu.

Judul: Aroma Karsa

Penulis: Dee Lestari

Tahun: 2018

Penerbit: PT. Bentang Pustaka

dianmariesta

Author: dianmariesta

You can call me Dian, a housewife living in the middle of hustle bustle of Kuala Lumpur but still cannot forget my own “kampong”, Indonesia. Living for more than 10 years in Malaysia still make me a pempek-lover, bakso addict, gado-gado enthusiasts, and bakmi devotee. Photography and writing are one of the things that keep me sane throughout my day as a devoted housewife.

2 Comment

  1. Wow! Baca reviewnya bikin buku ini langsung geser ke peringkat 1 wishlist. Tos dulu Dian sesama Dee Lovers.

    1. Tooosss mba… Siap-siap terpukau dengan novel ini ya mba. Ati-ati kalau nanti akhirnya gak bisa lepas sampe novelnya tamat

Please care to leave nice comment :)