Bedah Buku: How to Talk so Little Kids Will Listen – Part 1

Buku How to Talk so Little Kids Will Listen kayaknya sudah menjadi wishlist banyak orang tua, termasuk aku. Penantian mendapatkannya juga panjaaaang banget. Bulak balik nyari di toko buku sekitar Klang Valley tapi selalu kosong. Giliran ada, lha kok harganya mahal banget ya? Lalu aku mendengar kalau buku ini juga dicetak dalam versi bahasa Indonesia. Tapi, lagi-lagi aku mundur teratur. Jujur, agak kapok sih karena beberapa buku parenting yang di terjemahkan ke bahasa Indonesia membuat aku jadi malah kebingungan membacanya.

Akhirnya, berjodohlah aku dengan buku ini. Dipesan langsung dari sebuah toko buku online ternama di UK. Kalian tertarik? Bisa langsung klik di sini ya. Walaupun dikirim nun jauh di sana, justru harganya lebih murah jika dibandingkan dengan membeli di toko buku biasa.

Sengaja aku membedah buku How to Talk so Little Kids Will Listen dalam beberapa bagian. Karena isinya daging semua, sayang rasanya kalau tidak di bedah satu per satu. Selain untuk bisa sharing dengan teman-teman, aku juga ingin menyimpan catatan penting yang aku dapet dari buku ini. Jadi, jika suatu hari ingin mengingat-ingat kembali apa yang aku dapat dari buku ini, bisa ngintip ke postingan yang ini deh.

Buku yang ditulis oleh Joanna Faber dan Julie King ini memberikan solusi komunikasi yang efektif untuk menghadapi anak berumur 2-7 tahun. Beberapa bagiannya memang sangat sesuai untuk anak berumur 2 tahun, namun untuk Aqeela yang hampir 7 tahun masih relatable banget. Better late than never. Strategi yang ada di buku ini masih bisa banget kok diaplikasikan ke anak-anak yang berumur lebih besar.

Karena semuanya itu dimulai dari dasar, maka di sini kita diajarkan untuk bagaimana mewujudkan komunikasi optimal dengan anak. Yang serunya lagi, gak hanya teori kaku yang teman-teman bisa dapatkan di sini. Banyak banget studi kasus yang bisa disimak dan bisa dihubungkan dengan apa yang teman-teman alami langsung dengan anak.

Di bagian pertama ini, aku ingin membedah bab 1 yaitu “Tools for Handling Emotions”.

Buku How to Talk so Little Kids Will Listen

Poin Penting dalam Buku How to Talk so Little Kids Will Listen

“We can’t behave right when we don’t feel right. And kids can’t behave right when they don’t feel right.”

Akhirnya aku memahami mengapa penulis membuka buku ini dengan ajakan kepada orang tua untuk memahami dan mengelola emosi anak. Penulis mengatakan bahwa semua konflik komunikasi yang terjadi antara anak dan orang tua itu dimulai dari manajemen emosi yang buruk. Jika kita bisa mengelola emosi dengan baik maka komunikasi dengan anak tentu akan lebih baik.

Sama halnya seperti kita. Ketika kita lagi BT, sensitif, atau mood yang naik turun, kita akan bertingkahlaku yang bisa saja membuat orang mudah kesal. Nah, sama loh! Anak-anak juga seperti itu. Jangan gampang memberikan cap anak bandel, tidak mau mendengarkan orang tua atau memberikan panggilan buruk lainnya tanpa memahami dulu kenapa mereka bertingkah laku negatif saat itu. Do they feel right? Analisa ini dulu lalu teman-teman bisa masuk ke langkah selanjutnya.

“Some of your misery would be soothed if someone simply acknowledge and accepted your feelings.”

Sudah tau jika si kecil sedang dalam fase “senggol bacok”? Jika iya, jangan langsung dimarahin ya. Kita harus akui (acknowledge) dan terima (accepted) perasaan mereka terlebih dahulu. Coba inget-inget deh, ketika kalian lagi sebel banget akan sesuatu dan curhat sama salah satu teman. Yang bikin kalian bisa curhat bulak balik sama satu orang itu apa? Ya karena teman tersebut selalu acknowledge and accept perasaan kita kan?

Nah, kita saja ingin perasaan itu diakui dan diterima oleh orang lain. Sama halnya dengan anak. Stop dulu emosi kalian, kesampingkan hal lain yang mungkin bisa memancing emosi, lalu akui dan terima perasaan mereka agar bisa masuk ke langkah selanjutnya.

Aku sudah beberapa kali mencoba teknik ini ke Aqeela. Surprisingly, hasilnya sangat menarik loh! Cobain deh.

Without having their own feelings acknowledge first, children will be deaf to our finest explanations.

Joanna Fabe & Julie King, page. 16

“All feelings can be accepted. Some actions must be limited!”

Betul! Apapun perasaan anak, kita harus menerimanya. It’s easy to say but totally hard to do! Apalagi jika kita di kondisi setengah emosi dan harus mendengarkan repetan si kecil atas apa yang dia rasakan. Dan jujur, kadang bikin kuping panas. Hahahahaha.. Makanya, orang tua harus banyak belajar mengelola emosi ya.

Poinnya adalah tahan emosi (dan mulut) kalian untuk menanggapi luahan emosi si kecil, agar proses peluahan emosi anak bisa maksimal. Namun tetap ada pakem-pakem yang harus kita jaga ya. Bahwa meluahkan emosi dengan bercerita atau bahkan menangis itu wajar. Bukan berarti tindakan seperti memukul, menendang, atau melempar adalah cara yang benar dalam meluahkan perasaan mereka. Jangan dibiarkan ya!

“The best way to help a child “get over it” is to help him/her go through it.”

Sudah kita analisa, sudah kita tenangkan, dan sudah kita terima. Lalu apa lagi ya? Bantu si kecil untuk go through it. Menyelesaikan perasaan itu penting banget loh. Coba bayangkan kalau si kecil memiliki kekecewaan atas sesuatu dan kita biarkan. Mengendap. Bertahun-tahun.

Menyelesaikan perasaan dan berdamai dengannya harus diajarkan sedini mungkin. Cukup banyak kita melihat orang dewasa saat ini yang tidak bisa berdamai dengan perasaanya. Tidak mengerti bagaimana caranya mengelola emosi dan perasaannya. Akhirnya? Depresi.

“Children need us to validate their feelings so they can become grown-ups who know who they are and what they feel.”

Melanjutkan dari poin di atas. Pada akhirnya kita menginginkan anak kita menjadi orang dewasa seutuhnya. Mengajarkan akademik itu penting. Mengajarkan adab juga tidak kalah penting. Mengajarkan agama itu wajib. Namun mengajarkan anak agar bisa mengelola emosi dan perasaanya? Banyak dari kita yang miss akan pentingnya hal ini.

Perasaan manusia itu memang sesuatu yang kompleks ya? Sulit banget rasanya bisa mengerti, memahami dan menyelami perasaan orang lain. Jika kita bisa mengerti, memahami dan menyelami perasaan pasangan, teman, kerabat atau bahkan orang lain, kita juga harus bisa melakukan yang sama dengan anak dong? Perasaan anak itu sama kok dengan kita. Ingin dipahami, ingin dimengerti, ingin disayangi, ingin diakui. Jangan dibedakan ya.

Bahwa dibalik tingkah yang ditunjukkan anak, ada penyebab di dalamnya. Kita sebagai orang tua jangan langsung menghakimi apalagi memarahi. Lakukanlah hal-hal di atas agar komunikasi dengan anak bisa lebih baik. Ciptakan suasana keluarga yang sehat ya, teman-teman. Karena semuanya berasal dari rumah.

Semoga buku How to Talk so Little Kids Will Listen ini bisa menjadi buku bacaan tambahan untuk kalian ya. Ulasan bab-bab selanjutnya akan aku sharing di tulisan selanjutnya. Selamat membaca!

Love,

Bubunnya Aqeela

3 Comment

  1. Good jobs, inspiring sekali. Semoga banyak orang tua yg bisa memanage emosinya dalam mendidik anaknya yg didalam usia emas itu. Semoga Aqeela bisa menjadi anak yg Sholeha. Aamiin.

  2. 1 catatan nya bubun: mudah dikatakan, namun sangat sulit dilakukan…huhuhu mau nangis rasanya.
    Many thanks ya bubun..diingatkan kembali😘

  3. Sangat bermanfaat & membantu bgt mb, sharing nya.

    Tak sabar menunggu sesi berikutnya

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.